Peranan Forensic Science Terhadap TKP

ForensicScience-

Dalam investigasi kriminal, penyidik mengumpulkan barang bukti dari TKP, korban dan tersangka. Sampel ini kemudian dianalisis di laboratorium oleh ahli ilmu forensik untuk memberikan bukti ilmiah untuk membantu mengarahkan penyelidikan ke arah yang benar. Semua ahli ilmu forensik bekerja sama dengan penyidik ditempat kejadian dan polisi.
Untuk dapat membuat terang suatu perkara dengan cara memeriksa dan menganalisa barang bukti mati, sehingga dengan ilmu forensik haruslah didapat berbagai informasi, yaitu :
1. Information on corpus delicti, dari pemeriksaan baik TKP maupun barang bukti dapat menjelaskan dan membuktikan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana .
2. Information on modus operandi, beberapa pelaku kejahatan mempunyai cara – cara tersendiri dalam melakukan kejahatan dengan pemeriksaan barang bukti kaitannya dengan modus operandi sehingga dapat diharapkan siapa pelakunya .
3. Linking a suspect with a victim, pemeriksaan terhadap barang bukti di TKP ataupun korban dapat mengakibatkan keterlibatan tersangka dengan korban, karena dalam suatu tindak pidana pasti ada material dari tersangka yang tertinggal pada korban.
4. Linking a person to a crime scene, setelah terjadi tindak pidana banyak kemungkinan terjadi terhadap TKP maupun korban yang dilakukan oleh orang lain selain tersangka mengambil keuntungan.
5. Disproving or supporting a Witness ’s Testimony, pemeriksaan terhadap barang bukti dapat memberikan petunjuk apakah keterangan yang diberikan oleh tersangka ataupun saksi berbohong atau tidak.
6. Identification of a suspect, barang bukti terbaik yang dapat digunakan untuk mengindentifikasi seorang tersangka adalah sidik jari, karena sidik jari mempunyai sifat sangat karakteristik dan sangat individu bagi setiap orang.
7. Providing Investigative leads, pemeriksaan dari barang bukti dapat memberikan arah yang jelas dalam penyidikan

Mengenal Ciri-Ciri Fisik Korban Kasus Gantung Diri Di Lokasi TKP

Ciri Fisik Gantung Diri

Bunuh diri dalam bahasa Inggris dikenal suicide, berasal dari kata latin suicidium, dari sui caedere, “membunuh diri sendiri” adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya seringkali dikaitkan dengan gangguan jiwa misalnya depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alcohol /alkoholisme, atau penyalahgunaan obat. Faktor-faktor penyebab stres antara lain kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan interpersonal seringkali ikut berperan.

Pada kasus bunuh diri yang paling sering dijumpai di Indonesia yaitu kasus bunuh diri dengan cara menggantung leher sedangkan pada negara Cina biasa dengan cara melompat dari ketinggian atau gantung diri dan negara barat dengan menggunakan senjata api. Pada kasus ini saya akan membahas ciri-ciri fisik pada kasus gantung diri yang saya temui di lokasi TKP, banyak dari masyarakat yang tidak memahami kasus tersebut dan menganggap kasus tersebut adalah kasus pembunuhan atau sebaliknya.

Jeratan tali kasus gatung diri pada leher seseorang akan menutup suplai udara pada fadal reflek pernafasan. Sehingga suplai oksigen ke otak dan beberapa organ tubuh lainnya seperti paru-paru kosong. Akibatnya organ-organ yang cara kerjanya membutuhkan suplai oksigen, tak bisa berfungsi secara normal sehingga membuat mata membelalak, wajah membiru, lidah menjulur, kemudian ada bekas luka bekas tali pada daerah sekitar leher dan ditemukan kotoran air seni, tinja atau sperma pada korban, ujung jari tangan dan kaki ditemukan bintik mayat kemudian di lokasi TKP umumnya rapi, kadang ditemukan juga surat wasiat dan pada pintu serta jendela tertutup rapat dari dalam, tempat menggantung terjangkau oleh korban, ada alat tumpu, alur jerat umumnya serong atau miring, simpul pada tali ditemukan pada tengah atau samping leher.

Alasannya, kenapa saat ditemukan korban gantung diri ditemukan kotoran dan sperma pada korban karena gabungan antara efek gravitasi dan lemasnya semua otot yg berfungsi sebagai klep bagi zat-zat buang tsb. Otot-otot orang mati sudah pada kendur,untuk dubur dan kandung kemih punya otot yang bisa berfungsi untuk menahan kotoran yang ditampung. Kalau otot tersebut mati, tentu saja kotoran yg tertampung akan keluar.

Surat Wasiat

Peran Ilmuwan Forensik ( Forensic Scientist ) dan Ilmuwan Forensik TKP ( CSI Forensic Scientist ) dalam membantu pengungkapan kasus kriminal

CSI Forensic Scientist
Dalam pengungkapan suatu perkara, TKP merupakan gudangnya segala barang bukti. Dari TKP kita bisa mendapatkan segala informasi mulai dari tersangka, korban, saksi atau barang bukti serta petunjuk lainnya. Untuk mngerjakan TKP tersebut diperlukan petugas-petugas forensik yang handal dan cekatan. Seorang Penyidik/petugas TKP ​​perlu memiliki gelar dalam ilmu forensik atau ilmu alam, meskipun banyak peneliti TKP mulai dari petugas Polisi. Ilmuawan laboratorium forensik biasanya membutuhkan gelar sarjana seperti dalam ilmu forensik, kimia, biologi, matematika atau bidang terkaitnya. Beberapa spesialisasi memiliki persyaratan lainnya.
Sebagai contoh, para ilmuwan forensik dalam ilmu rekayasa umumnya perlu gelar sarjana teknik. ahli toksikologi forensik biasanya memiliki gelar sarjana dalam ilmu fisika, tetapi banyak juga mengambil atau melanjutkan ke pascasarjana dalam toksikologi, dan dapat memperoleh master atau Ph.D. dalam toksikologi.
#Ilmuwan forensik CSI, lebih dikenal sebagai penyidik TKP atau dikenal INAFIS kalau di Indonesia, bertugas memutuskan dan mengumpulkan mana barang bukti, menentukan metodologi dan katalog barang-barang seperti senjata dan sidik jari. Selain membuat catatan tertulis, Ilmuwan Forensik CSI memotret bukti dan membuat sketsa TKP. Bukti inilah nanti kemudian dibawa ke laboratorium kriminal untuk diproses oleh teknisi laboratorium forensik.
#Ilmuwan forensik bekerja di laboratorium untuk memeriksa segala barang bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Ilmuwan forensik CSI.
Ilmuwan laboratorium forensik menggunakan berbagai bahan kimia dan analisis fisik untuk mengidentifikasi bukti dan membangun hubungan antara tersangka dan tindak pidana. Mereka mengevaluasi DNA, sidik jari dan cipratan darah, selain melakukan tes balistik.
Sementara investigasi TKP adalah cabang terbatas ilmu forensik, ilmuwan laboratorium forensik memiliki berbagai spesialisasi untuk dipilih. Sebagai contoh, beberapa spesialis ilmuwan forensik dalam ilmu digital dan multimedia. Masing Individu-individu mengembangkan hasil rekaman video untuk mengidentifikasi tersangka dan korban, memeriksa komputer untuk menentukan apakah file telah dihapus atau dimodifikasi dan penetapan waktu penggunaan komputer.
Ilmuwan forensik lain mungkin mengkhususkan diri dalam ilmu teknik dan mampu menjawab segala pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa kendaraan terguling, sebuah pesawat jatuh atau bangunan runtuh. Ahli toksikologi forensik menentukan apakah alkohol atau obat-obatan terlarang menyebabkan kematian seseorang.

Bapak Ilmu Dunia Forensik Modern

dr-edmond-locard

Bahkan sosok Sir Arthur Conan Doyle sebagai pencipta sosok Sherlock pun mengagumi Edmond Locard
The Godfather Of CSI siapa lagi kalau bukan Edmond Locard pendiri ilmu forensik modern, Sosok Edmond Locard selalu memberi inspirasi dalam dunia forensik kriminal. sampai saat ini ilmu atau teorinya masih berlaku dan digunakan dalam metode pengungkapan kasus-kasus kejahatan. Dia mengajak kota Lyons di Perancis selatan untuk membangun dunia laboratorium CSI pertama yang akan mengubah wajah dunia dan memerangi kejahatan untuk selama-lamanya.
Seperti Sherlock Holmes, detektif fiksi yang terinspirasi dengan kehadirannya, dia adalah seorang jenius.Sir Arthur Conan Doyle, yang telah menciptakan Holmes pada tahun 1886, merupakan salah satu pengagum Locard yang mengikuti dan untuk melihat laboratorium forensik dalam operasi.
lab Locard dibuka pada tahun 1910 dan di sana ia mulai untuk merumuskan teori pusat forensik yang mendukung ribuan investigasi pembunuhan yang diluncurkan setiap tahunnya, dari Baltimore ke Cape Town.Teorinya yang paling dikenal yaitu menetapkan bahwa “setiap kontak meninggalkan jejak.” Dia menunjuk sidik jari, rambut, darah dan cairan tubuh.dr-edmond-locard

Memburu Jejak TKP Lewat Media Belajar Bersama Dokter Forensic

pembusukan

Bekerja bersama dokter forensic dalam mengungkap suatu kasus adalah pengalaman paling berharga dalam hidup saya berkenaan dengan mayat apalagi pada saat dilakukan autopsi mayat.Sangat-sangat tidak terbayang dalam pikiran saya bisa satu panggung bersama dokter jika tidak bertugas dibagian INAFIS.Untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman forensic butuh sekolah atau pendidikan khusus forensic.Namun dengan tugas dibagian INAFIS banyak ilmu yang saya peroleh mulai dari mengenal bentuk organ tubuh manusia baik dalam maupun luar,penyebab kematian korban sampai pada istilah-istilah kedokteran.

Bukan hanya teori dokter forensic saja yang saya dapatkan, tapi pejelasan uji coba penyebab kematian juga saya dapatkan seperti kasus pembunuhan yang diakibatkan oleh bekapan yang erat hubungannya dengan organ dalam paru-paru,bekas pukulan benda tumpul walaupun korban sudah lama meninggal namun tulang bagian organ dalam tetap akan meninggalkan bekas, kemudian tusukan juga dan masih banyak lagi ilmu yang saya peroleh.

Didalam tkp ada begitu banyak barang bukti yang bisa dijadikan analisa/dikembangkan untuk proses pembuktian mulai dari barang milik korban seperti perhiasan atau identitas korban, serta bagian tubuh korban atau bahkan milik pelaku dan lain sebagainya.Kesemua barang bukti yang ada pada tkp tersebut dapat dijadikan bukti setelah dilakukan penyisihan oleh INAFIS mana yang masuk dan ada kaitannya dengan kasus yang terjadi.

Prinsip yang kami pegang “Tidak ada tkp yang tidak meninggalkan jejak,sepintar,serapih apapun tkp tetap akan meninggalkan jejak”. Prinsip inilah yang kita junjung dan kita laksanakan guna mengembangkan kasus tersebut sesuai “teori segitiga”. Pembuktian segitiga adalah hubungan timbal balik antara pelaku,barang bukti dan saksi korban atau adanya persesuaian yang saling berhubungan.

Berdasarkan penjelasan diatas, panduan tersebut bisa diambil atau dijadikan pegangan oleh penyidik yang bertugas dibagian olah tempat kejadian perkara dalam hal ini INAFIS untuk memperkirakan berapa lama korban meninggal ketika mendatangai dan melihat kondisi korban di TKP.Hasil pengamatan tersebut bisa dihubungkan dan di compare pada saat olah tkp dimana barang bukti yang ditemukan dan kondisi posisi korban pertama kali dilihat dengan menggunakan ukuran/meteran.Begitu pentingnya posisi asli tkp sehingga tidak diperbolehkan untuk bergeser sebelum dilakukan olah tempat kejadian perkara oleh INAFIS.

Memburu Jejak TKP

Kisah “MEBURU JEJAK TKP”
Dibuku kedua ini penulis mengajak dan berbagi pengalaman dalam bidang olah tempat kejadian perkara khususnya kasus pembunuhan atau penemuan mayat. Mengungkap kasus demi kasus dengan menggunakan metode Scientific Crime Investigation ( SCI ) bahkan dengan segala petunjuk atau barang bukti yang mungkin buat sebagian orang tidak berguna dalam proses pengungkapan,seperti kisah detective Sherlock yang terkenal dengan “deduksinya”.Kisah pengungkapan kasus pembunuhan ini tak jarang membuat haru petugas ketika berhadapan/melihat korban pembunuhan, namun sebagai petugas Kepolisian harus bersikap profesional dan bisa menempatkan diri.Kejelian dan sensitifitas terhadap TKP wajib dimiliki setiap petugas bagaimana melihat situasi TKP apakah benar-benar terjadi ataukah sebuah rekayasa. 
Pengungkapan kasus ini hampir tak jauh beda seperti kisah-kisah fiksi polisi detective, dimana korban yang ditemukan ditempat-tempat tertutup dan bahkan minim saksi apalagi barang bukti tapi niat baik selalu diridhoi ALLAH SWT. Ada prinsip dalam menuntut ilmu yang penulis pegang sampai sekarang “Jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihatlah apa yang akan disampaikannya”karena pengalaman adalah guru yang paling penting dalam menambah pengetahuan.Umur dan pendidikan bukanlah jaminan untuk seseorang dianggap hebat atau mahir tapi pengalaman yang secara terus meneruslah guru yang paling bagus.
Didalam buku ini penulis membahas bagaimana pengalaman menjadi anggota INAFIS dan berhadapan dengan mayat busuk,berulat dan bahkan harus kekamar jenazah sendirian hanya untuk mengambil sidik jari korban dan memeriksa tanda-tanda kematian korban. Memperkenalkan sebagian alat-alat yang digunakan Polisi CSI, metode-metode dalam pencarian barang bukti serta pengertian barang bukti menurut parah ahli serta banyak lagi.
Melalui buku ini saya ingin masyarakat lebih memahami tugas kami sebagai team olah tkp yang selalu siap kapanpun dibutuhkan sebagai garda terdepan dalam proses penyelidikan dan penyidikan dalam mengungkap suatu peristiwa pidana,sehingga antara masyarakat dan polisi dapat menjadi mitra dalam memerangi kejahatan.Kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari masyarakat sebagai pemberi informasi.Sekecil apapun informasi yang kami dapat dari masyarakat sangat penting dalam pengungkapan kejahatan.
Dengan buku ini juga penulis berharap, masyarakat akan menjadi paham bagaimana pentingnya sebuah keaslian TKP dalam peristiwa pidana.TKP adalah gudangnya barang bukti disana banyak informasi penting mulai dari pelaku,saksi sampai pada barang bukti yang kesemuanya masuk dalam teori “segitiga pembuktian”.
Nantikan Kisahnya dibuku kedua ” Memburu jejak TKP” sebagai bentuk dedikasi penulis selama bergelut di bidang TKP

Kerangka Wanita Diperkebunan Sawit

wp-1491579464128.png

Terlihat tulang kerangka diantara semak rerumputan. Dugaan sementara kerangka yang kita temukan berjenis kelamin perempuan dengan diperkuat adanya barang bukti yang ditemukan di lokasi TKP dan lokasi TKP cukup luas karena berada di lahan perkebunan, tentu metode yang kita gunakan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara ketika mencari petunjuk atau barang bukti berbeda, ketika berada didalam rumah.

Metode yang kami pakai untuk lokasi yang cukup luas ini menggunakan metode spiral untuk mencari barang bukti yang lain, setelah melakukan penyisiran serta olah TKP. Dilokasi TKP kita temukan jasad wanita dalam keadaan tidak utuh dan sudah menjadi tengkorak, tangan dan perutnya sudah tidak utuh lagi seperti dimakan binatang buas dalam keadaan mengenaskan.
Di lokasi TKP, ditemukan barang bukti seperti pisau, sendal, jilbab dan bahkan pakaian korban yang menguatkan dugaan bahwa mayat tersebut berjenis kelamin perempuan. Mayat atau tulang belulang tersebut selanjutnya dibawa kerumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter forensic.

Untuk mengetahui identitas korban yang ketika ditemukan sudah menjadi tulang belulang, bahkan beberapa bagian anggota tubuhnya ada yang hilang sangatlah sulit dan harus ekstra hati-hati. Sejauh ini belum ada laporan warga yang hilang anggota keluarga.
Sebab pasti kematian sulit untuk dapat ditentukan karena sudah terjadi proses pembusukan lanjut berupa Skeletonisasi ( tulang belulang ), tetapi kekerasan yang terjadi pada tulang tengkorak diatas yaitu berupa resapan darah menunjukkan bahwa telah terjadi suatu kekerasan yang sangat hebat dikepala yang dapat merusak otak sehingga terjadi kematian.
Dalam ilmu forensik umumnya rangka manusia terbagi atas tiga bagian yaitu :
a. Rangka kepala
1) Rangka kepala dikenal dengan nama tengkorak.
2) Rangka tulang kepala berbentuk bulat, disusun oleh tulang-tulang yang berbentuk pipih.
3) Tulang-tulang bersatu membentuk sendi tetapi tidak dapat digerakkan.
b. Rangka badan
Rangka badan disusun oleh berbagi masam tulang, diantranya :
1) Ruas tulang belakang, sambungan antar tulang dapat digerakkan kedepan atau membungkuk ke depan, ke samping, sehingga tubuh dapat dibungkukkan.
2) Tulang dada tidak dapat digerakkan
3) Tulang-tulang rusuk, sambungan tulang-tulang rusuk dapat digerakkan.
4) Tulang rangka badan ada yang berbentuk pipih, misalnya pada tulang rusuk dan belikat.
5) Rangka badan membentuk rongga dada yang berfungsi untuk melindungi paru-paru, jantung, hati, dan lambung.
c. Rangka anggota gerak
1) Rangka anggota gerak terdiri atas rangka tangan dan rangka kaki.
2) Rangka tangan dan rangka kaki disusun oleh tulang-tulang yang berbentuk pipa dan keras.
3) Setiap tulang dihubungkan dengan sendi sehingga dapatbergerak.

Bagaimana kisah proses pencarian dan pengungkapannya silahkan ikuti dalam Memburu Jejak TKP

The Beauty Crime

 

Dalam cerita detective ataupun kisah nyata kasus yg paling menarik perhatian dan memerlukan analisa mendalam serta sensitifitas yg kuat adalah kasus pembunuhan dimana lokasinya berada di ruang tertutup, kasus ini biasa disebut dng Locked Room Murder.Tujuannya untuk menyamarkan kasus pembunuhan seolah2 murni bunuh diri.Kasus ini kalau secara dianalogikan adalah sesuatu yg mustahil dimasuki oleh pelaku, nyaris tanpa jejak bahkan sempurna serta bisa diterima dengan akal sehat artinya wajar.

Yang pastinya pelaku sudah membaca situasi ini,sudah lama mengenal ruangan atau keadaan di tkp bahkan sudah berulang kali melakukan uji coba, namun tkp tetaplah tkp sesempurna apapun tetap meninggalkan clue tinggal tergantung dari petugasnya bagaimana melihat dan menganalisa bukti demi bukti atau jejak demi jejak yg jelas selalu ada jalan untuk mengejar pelaku sebenarnya ini yg kita namanya “The Beauty Crime”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/agunginafis/the-beauty-crime_58bd3b29337a616108456531

Ceceran Darah dan Tiang Pagar jadi Petunjuk Pengungkapan

20170404_114922

“Locard Exchange Principle adalah suatu prinsip yang menyatakan bahwa pelaku kejahatan akan membawa sesuatu ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pasti akan meninggalkan jejak yang mana hal itu dapat dijadikan sebagai bukti forensic” (Dr Edmond Locard (1877-1966) ). Prinsip inilah yang selalu saya pegang, bahwa suatu kehatan akan terungkap nantinya dengan bukti dan petunjuk yang ditemukan oleh petugas karena tidak ada kejahatan yang sempurna dan tidak meninggalkan bukti/jejak.

Dari berbagai lokasi kasus pembunuhan yang pernah saya datangi,kasus dilokasi ini lah yang paling berkesan buat saya, dimana korbannya terdapat ibu dan anak yang menjadi korban pembunuhan dalam keadaan tidur dan mati dengan cara menggenaskan, lokasi tkp juga cukup sulit  dimana tidak dimungkinkan banyak anggota bisa masuk, apalagi saat melakukan evakuasi tersangka dan rekontruksi harus menggunkan sampan agar gambar yang diambil bagus. Sebagai manusia biasa wajar kalau saat melakukan pemeriksaan tkp timbul rasa haru atau iba terhadap korban, apalagi saat membayangkan sebelum terjadinya kasus pembunuhan tersebut.

Sebagai petugas saya harus bersikap Profesional dalam bertugas untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dalam mencari siapa pelaku sebenarnya. Mulai dari melakukan pemeriksaan luka pada korban serta barang bukti yang menjadi petunjuk pengungkapan. Rumah yang menjadi tempat,terjadinya kasus pembunuhan terbuat dari kayu berlantai dua dengan kondisi miring bahkan rapuh sehingga tidak dimungkinkan semua anggota bisa masuk karena ditakutkan akan roboh dan rumah tersebut berada diantara padatnya pemukiman penduduk dipinggir sungai. Selanjutnya saya masuk lewat pintu depan yang sudah terpasang garis polisi dan perlahan-lahan mengamati seisi rumah mulai dari sisi sudut ruangan lantai dasar sampai menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu agar jangan sampai ada hal-hal penting yang terlewatkan.

Dari pandangan yang saya lihat, tanda-tanda terjadinya kasus pembunuhan tersebut sudah mulai terlihat /terasa dari tiap tetes darah dan bau anyir darah yang ada pada lantai dasar rumah sampai ke anak tangga menunju lantai dua kamar terjadinya kasus pembunuhan bahkan dijalan / jembatan di samping rumah yang diperlihatkan oleh warga sekitar.Dan benar saja 2(dua) sosok korban saya temukan sudah tergeletak diatas tempat tidur yang korbannya perempuan dewasa serta anak kecil dan pada saat kejadian dilokasi suami korban tidak berada dilokasi/dirumah yang menurut kabarnya sedang berada di luar kota karena pekerjaan.Sesuai prosedur olah tkp,jika ditemukan korban di lokasi wajib hukumnya untuk memeriksa kondisi korban apakah masih ada tanda-tanda kehidupan atau tidak kemudian luka pada korban.

Pemeriksaan awal saya lakukan pada peremuan dewasa yang tak lain adalah seorang ibu,pada tubuh korban saya temukan luka gorokan dileher yang cukup panjang dan dalam,kemudian luka tusuk pada perut bagian tengah serta pada perut sebelah kiri hingga keluar isi perut lemak kulit dan luka pada lengan kirinya dengan posisi terlentang dimana posisi badan sampai kepala diatas tempat tidur sedangkan pinggang sampai ke kaki berada dilantai yang menandakan korban sempat melakukan perlawanan terhadap pelaku. Selanjutnya pemeriksaan kepada anak perempuan kecil disamping ibunya dengan kondisi masih menggunakan kaos dalam putih dan celana pendek posisi terlentang dengan mata yang terbuka seperti tidak terjadi apa-apa. Ditubuhnya saya temukan luka gorok bagian belakang leher yang cukup dalam, punggung dan luka bagian depan dada.

Hasil pengamatan pada lantai dua dimana terdapat korban pembunuhan, bau darah segar sangat kuat tercium, ceceran darah dilantai karpet pelastik dan tempat tidur sangat jelas terlihat apalagi pada selimut yang digunakan korban saat tidur bahkan percikan darahnya pun jelas terlihat pada dispenser dan magic jar disamping tempat tidur. Saya paham betul percikan darah segar yang terlihat  itu adalah hasil ayunan/kibasan dari senjata pelaku yang digunakan untuk membunuh ibu dan anak ini.

Tanpa berlama-lama mulailah saya membuka peralatan olah tkp untuk mencari tanda-tanda bekas yang ditinggalkan pelaku baik pada saat masuk maupun keluar. Pencarian tersebut saya mulai dari membuka laci dan lemari pakaian korban dilantai dua untuk memastikan apakah perhiasan korban masih ada atau tidak, kemudian mencari sidik jari pelaku yang tertinggal diberbagai tempat dan barang bukti lain yang ada hubungannya dengan kejadian tersebut serta ceceran darah pada lantai.

Pandangan mata saya terhadap setiap bagian sisi ruang tak pernah saya lewatkan,dan benar saja ada beberapa tetesan darah kental pada lantai dua yang menghubungkan tempat menjemur pakaian dan posisinya disudut dibawah pintu kemudian darah tersebut berhenti diluar…………..Bagaimana kisahnya silahkan ikuti dalam “Memburu jejak TKP” dengan kisah-kisah lain yang menarik.

WordPress.com.

Up ↑