Kasus bunuh diri,kecelakaan atau pembunuhan….?

Pada bahasan ini  saya mencoba akan membahas kasus2 tersebut diatas secara scientific crime investigation dari beberapa tkp yg di temukan dengan beberapa ciri dan cara bekerjanya. Kasus2 ini  merupakan suatu misteri atau teka-teki yg harus bisa dijawab secara ilmiah oleh petugas CSI dengan didukung keterangan dokter forensic.
Bunuh diri,kecelakaan ataupun pembunuhan  memang sesuatu bahasan yg menarik yg harus di jawab oleh petugas kepolisian khususnya yg bergerak dibidang CSI dan dokter. Penjelasan dari bahasan tsb memang harus bisa terjawab secara scientific crime investigation ketika petugas kepolisian menerima informasi yg ada dari masyarakat di lokasi tkp. Masing2 memiliki ciri2 dan sebab yg berbeda jika ditinjau dari sisi penyidikan berbeda dari kaca mata orang awam pada umumnya.
Kasus kematian karena kecelakaan mati tenggelam biasanya di dapat pada korban seperti air atau benda2 asing mulai dari binatang air,ganggang ataupun pasir bisa masuk kedalam tubuh korban. Jika terdapat luka2 di bagian atau daerah yg sulit di jangkau atau terkena benturan bisa kemungkinan karena pembunuhan.
Pada kasus bunuh diri bisa diketahui dari hasil pemeriksaan langsung di lokasi tkp, terhadap korban/mayat maupun benda2 yg di temukan dilokasi kejadian dan didukung keterangan saksi. Pada kasus bunuh diri lokasi yg dipilih adalah tempat yg sepih atau tersembunyi atau bahkan di kunci dari dalam dan ditemukan surat2 wasiat atau pesan kepada orang2 tertentu yg isinya kata2 maaf dan penyesalan.
Pada kasus pembunuhan lokasi bebas atau tidak ditentukan, jika terjadi didalam suatu ruangan dimana ruangan itu berantakan, ada beberapa barang yg hilang milik korban, senjata atau alat yg di pakai atau dipersiapkan oleh pelaku biasanya tidak ditemukan di lokasi tkp dan mengenai pakaian yg dikenakan korban juga kadang robek, bercak darah atau genangan darah korban didapat secara tidak beraturan di akibatkan perlawanan atau menghindar ketika terjadi kontak fisik korban dan pelaku dilokasi tkp.
Dari hasil pembahasan tadi dapat di tarik garis kesimpulan bahwa suatu peristiwa dapat di jawab secara scientific crime investigation apakah suatu peristiwa pembunuhan, bunuh diri atau karena kecelakaan dengan memperhatikan lokasi tkp, barang bukti,korban dan juga saksi serta rentang waktu kejadian.
“Tak ada peristiwa kejahatan yang sempurna dan tidak meninggalkan jejak”

Rahasia Kehebatan Dibalik Sidik Jari ( The Secret of Greatness Behind Fingerprints )

Rahasia Kehebatan Dibalik Sidik Jari

Keakuratan sidik jari hingga kini belum ada yang menandingi berbagai metode bahkan penelitian sudah dilakukan berbagai pakar, ahli atau bahkan ilmuwan dari sejak jaman dahulu prasejarah hingga jaman modern. Dari penggunaan bentuk tubuh atau tulang yg dikembangkan Aplphonse Bartillon, gigi, golongan darah oleh Karl Landsteiner yang pertama kali menemukan golongan darah manusia dan dianugerahi hadiah Nobel untuk karyanya pada tahun 1930, DNA oleh James Dewey Watson lahir di Chicago, Illinois, pada tanggal 6 April 1928, sebagai putra tunggal dari James D. Watson, seorang pengusaha, dan Jean Mitchell, bentuk cetakan bibir bahkan sidik jari seperti yang dikembangkan Galton yang kita kenal saat ini walaupun sebelum Galton sudah ada pakar2 terdahulu yg menemukan sidik jari.

Seperti pendapat Sir Francis Galton mengenai sidik jari yang dia kembangkan dan juga membuat metode atau sistem klasifikasi sidik jari ” He should have said that the chance of two people having the same fingerprint is 1 in 64 billion. The worlds population exceeds 7 billion and we each have 10 fingerprints. The world population of fingerprints is about 70 billion, since that exceeds the 64 billion stated by Galton, we can assume that there would be one person in this world having one matching fingerprint.”

Jika dapat kita artikan pendapat beliau kemungkinan dua orang yang memiliki sidik jari yang sama adalah 1 berbanding dari 64 miliar. Populasi dunia melebihi 7 miliar sedangkan kita masing-masing memiliki 10 sidik jari. Populasi sidik jari dunia sekitar 70 miliar, karena melebihi 64 miliar yang dinyatakan oleh Galton, kita dapat berasumsi bahwa akan ada satu orang di dunia ini yang memiliki satu sidik jari yang sesuai. Jadi untuk mencari sidik jari yang sama adalah sesuatu hal yang mustahil. Hal ini merupakan pendapat Galton pada akhir abad ke-19 dan sejak saat itu tidak ada ilmuwan yang menerbitkan sebuah studi tentang masalah ini.

Salah satu contoh kasus yang membuktikan bahwa sidik jari sangatlah penting dan dapat digunakan sebagai proses identifikasi seseorang yaitu saat Inspektur Alvarez dari Kepolisian di La Plata, dari negara Argentina mendapatkan kesulitan menbongkar sebuah kasus misteri kematian dua anak-anak di rumahnya, Francisca Rojas (26) sang ibu pun menjadi tertuduh atas kejadian tersebut, tetapi Francisca Rojas tidak mau mengakui kalau dia adalah pelakunya.

Akhirnya berkat ketelitiannya, Alvarez menemukan sidik jari jempol berdarah di pintu rumah tersebut. Sidik jari yang ditemukan tersebut kemudian dicocokkan, dan akhirnya sidik itu sama dan cocok dengan cap jari jempol kanan milik Francisca. Mendadak sang pelaku atau Fransisca jatuh pingsan karena taidak menyangka sidik jarinya sama dan akhirnya mengakui sebagai pelaku pembunuhan. Kasus Rojas adalah kasus kriminal pertama yang dipecahkan dengan temuan sidik jari di tempat kejadian ( TKP ). Tak heran apabila negara Argentina menjadi negara pertama di dunia yang menggunakan sidik jari sebagai metode tunggal mengidentifikasi pelaku kejahatan / kriminal.
Selanjutnya Dr. Henry Faulds dalam jurnal Nature tentang sidik jari. Menurut Faulds yang lama bekerja di negara Jepang, sudah berabad-abad lamanya masyarakat lokal menggunakan sidik jari. Bahkan, keringat dari pori-pori jari akan meninggalkan cetakan yang sangat jelas seperti bercak darah atau tinta. Faulds pun menganjurkan polisi untuk mencari dan menggunakan sidik jari pada setiap lokasi terjadinya kejahatan. Namun sayangnya, sama nasib seperti Faulds, tulisan Herschel pada Nature pun tidak diperhatikan atau dipercaya orang. Sampai pada tahun 1888, saat ilmuwan masyhur Inggris, Sir Francis Galton – yang sedang mencari-cari metode mengidentifikasi pelaku kejahatan – ingat karya Faulds dan Herschel. Galton yang kemudian menjadi pendukung fanatik sidik jari berpendapat, perlu adanya sistem klasifikasi sederhana bila cetakan sidik jari akan digunakan dalam praktik sehari-hari dinas kepolisian.

Sistim metode Galton saat inilah yang kita gunakan untuk melakukan perumusan dan bahkan mencocokan pelaku kriminal. Betapa hebat dan luar biasanya sebuah sidik jari bagi kehidupan manusia sebagai cara pembeda antara orang yang satu dengan yang lain meskipun mereka kembar identik. Saya salah satu pengagum dari tokoh-tokoh terdahulu yang sudah menciptakan dan menemukan sidik jari sedemikian hebat walau rumit tapi disitulah letak kehebatan sebuah sidik jari.

Masih banyak lagi contoh keunggulan sidik jari bagimana mengungkap atau mengidentifikasi saudara kembar yang pernah ditahan di Leaventhworth seperti Will West Dan Wiliam West yang sebelumnya menggunkan metode Alphonse Bertillon dengan metode bentuk tubuh yang kemudian dipertanyakan keakuratannya dan akhirnya beralih ke sidik jari.

Buku Rahasia kehebatan Dibalik Sidik Jari dibahas lengkap dan merupakan buku pertama yang pernah ada di Indonesia dan ditulis secara resmi dan ditulis sebagai kecintaan dan dedikasi saya sebagai penulis selama berada di bidang Identifikasi dan mendatangi berbagai jenis Tempat Kejadian Perkara ( TKP ). Kecintaan penulis terhadap sidik jari yang begitu besar membuat penulis termotivasi untuk menuangkan pengalaman dan cara serta pengenalan tentang apa itu sebenarnya sidik jari yang pada umumnya masyarakat kenal apakah itu pada saat pelayanan pembuatan SKCK, olah TKP maupun pelayanan umum lainnya.

Sidik jari yang ada pada jari manusia beragam jenis dan bentuk pokok lukisannya, kalau kita lihat pada jari manusia atau pada jari kita sendiri tanganan kanan maupun kiri dari jempol dan kelingking begitu unik dan indahnya garis-garis yang terbentuk dari melengkung, melingkar atau membentuk seperti pegunungan kesemua itu tidak terlepas dari rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan sidik jari yang selama ini kita kenal dan dipakai oleh Kepolisan untuk mengenal kembali pemilik jari yang sebenarnya apakah dalam kasus Pidana maupun pelayanan umum lainnya.

Dalam sidik jari ada yang di kenal RIDGE COUNTING dan RIDGE TRACKING terutama dipakai pada saat melakukan perumusan, lain halnya dalam Perbandingan sidik jari mempunyai metode dan dasar Fingerprint Comparison dengan membandingkan masing-masing jari dari core,delta atau garis karakteristik lainnya. Buku ” RAHASIA KEHEBATAN DIBALIK SIDIIK JARI ” ini memuat pengertian sidik jari, orang-orang yang berjasa atas penemuan sidik jari, perkembangnnya dan dasar dipakai/dijadikan alat bukti di pengadilan serta bagaimana cara mengambil sidik jari yang baik dan benar,mengenal pokok lukisan, perubahan garis pokok lukisan, garis karakteristik dan bagaimana sidik jari dapat terbentuk dan tertinggal pada benda serta komposisinya.

Bripka Agung

Peranan Forensic Science Terhadap TKP

ForensicScience-

Dalam investigasi kriminal, penyidik mengumpulkan barang bukti dari TKP, korban dan tersangka. Sampel ini kemudian dianalisis di laboratorium oleh ahli ilmu forensik untuk memberikan bukti ilmiah untuk membantu mengarahkan penyelidikan ke arah yang benar. Semua ahli ilmu forensik bekerja sama dengan penyidik ditempat kejadian dan polisi.
Untuk dapat membuat terang suatu perkara dengan cara memeriksa dan menganalisa barang bukti mati, sehingga dengan ilmu forensik haruslah didapat berbagai informasi, yaitu :
1. Information on corpus delicti, dari pemeriksaan baik TKP maupun barang bukti dapat menjelaskan dan membuktikan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana .
2. Information on modus operandi, beberapa pelaku kejahatan mempunyai cara – cara tersendiri dalam melakukan kejahatan dengan pemeriksaan barang bukti kaitannya dengan modus operandi sehingga dapat diharapkan siapa pelakunya .
3. Linking a suspect with a victim, pemeriksaan terhadap barang bukti di TKP ataupun korban dapat mengakibatkan keterlibatan tersangka dengan korban, karena dalam suatu tindak pidana pasti ada material dari tersangka yang tertinggal pada korban.
4. Linking a person to a crime scene, setelah terjadi tindak pidana banyak kemungkinan terjadi terhadap TKP maupun korban yang dilakukan oleh orang lain selain tersangka mengambil keuntungan.
5. Disproving or supporting a Witness ’s Testimony, pemeriksaan terhadap barang bukti dapat memberikan petunjuk apakah keterangan yang diberikan oleh tersangka ataupun saksi berbohong atau tidak.
6. Identification of a suspect, barang bukti terbaik yang dapat digunakan untuk mengindentifikasi seorang tersangka adalah sidik jari, karena sidik jari mempunyai sifat sangat karakteristik dan sangat individu bagi setiap orang.
7. Providing Investigative leads, pemeriksaan dari barang bukti dapat memberikan arah yang jelas dalam penyidikan

Mengenal Ciri-Ciri Fisik Korban Kasus Gantung Diri Di Lokasi TKP

Ciri Fisik Gantung Diri

Bunuh diri dalam bahasa Inggris dikenal suicide, berasal dari kata latin suicidium, dari sui caedere, “membunuh diri sendiri” adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya seringkali dikaitkan dengan gangguan jiwa misalnya depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alcohol /alkoholisme, atau penyalahgunaan obat. Faktor-faktor penyebab stres antara lain kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan interpersonal seringkali ikut berperan.

Pada kasus bunuh diri yang paling sering dijumpai di Indonesia yaitu kasus bunuh diri dengan cara menggantung leher sedangkan pada negara Cina biasa dengan cara melompat dari ketinggian atau gantung diri dan negara barat dengan menggunakan senjata api. Pada kasus ini saya akan membahas ciri-ciri fisik pada kasus gantung diri yang saya temui di lokasi TKP, banyak dari masyarakat yang tidak memahami kasus tersebut dan menganggap kasus tersebut adalah kasus pembunuhan atau sebaliknya.

Jeratan tali kasus gatung diri pada leher seseorang akan menutup suplai udara pada fadal reflek pernafasan. Sehingga suplai oksigen ke otak dan beberapa organ tubuh lainnya seperti paru-paru kosong. Akibatnya organ-organ yang cara kerjanya membutuhkan suplai oksigen, tak bisa berfungsi secara normal sehingga membuat mata membelalak, wajah membiru, lidah menjulur, kemudian ada bekas luka bekas tali pada daerah sekitar leher dan ditemukan kotoran air seni, tinja atau sperma pada korban, ujung jari tangan dan kaki ditemukan bintik mayat kemudian di lokasi TKP umumnya rapi, kadang ditemukan juga surat wasiat dan pada pintu serta jendela tertutup rapat dari dalam, tempat menggantung terjangkau oleh korban, ada alat tumpu, alur jerat umumnya serong atau miring, simpul pada tali ditemukan pada tengah atau samping leher.

Alasannya, kenapa saat ditemukan korban gantung diri ditemukan kotoran dan sperma pada korban karena gabungan antara efek gravitasi dan lemasnya semua otot yg berfungsi sebagai klep bagi zat-zat buang tsb. Otot-otot orang mati sudah pada kendur,untuk dubur dan kandung kemih punya otot yang bisa berfungsi untuk menahan kotoran yang ditampung. Kalau otot tersebut mati, tentu saja kotoran yg tertampung akan keluar.

Surat Wasiat

Peran Ilmuwan Forensik ( Forensic Scientist ) dan Ilmuwan Forensik TKP ( CSI Forensic Scientist ) dalam membantu pengungkapan kasus kriminal

CSI Forensic Scientist
Dalam pengungkapan suatu perkara, TKP merupakan gudangnya segala barang bukti. Dari TKP kita bisa mendapatkan segala informasi mulai dari tersangka, korban, saksi atau barang bukti serta petunjuk lainnya. Untuk mngerjakan TKP tersebut diperlukan petugas-petugas forensik yang handal dan cekatan. Seorang Penyidik/petugas TKP ​​perlu memiliki gelar dalam ilmu forensik atau ilmu alam, meskipun banyak peneliti TKP mulai dari petugas Polisi. Ilmuawan laboratorium forensik biasanya membutuhkan gelar sarjana seperti dalam ilmu forensik, kimia, biologi, matematika atau bidang terkaitnya. Beberapa spesialisasi memiliki persyaratan lainnya.
Sebagai contoh, para ilmuwan forensik dalam ilmu rekayasa umumnya perlu gelar sarjana teknik. ahli toksikologi forensik biasanya memiliki gelar sarjana dalam ilmu fisika, tetapi banyak juga mengambil atau melanjutkan ke pascasarjana dalam toksikologi, dan dapat memperoleh master atau Ph.D. dalam toksikologi.
#Ilmuwan forensik CSI, lebih dikenal sebagai penyidik TKP atau dikenal INAFIS kalau di Indonesia, bertugas memutuskan dan mengumpulkan mana barang bukti, menentukan metodologi dan katalog barang-barang seperti senjata dan sidik jari. Selain membuat catatan tertulis, Ilmuwan Forensik CSI memotret bukti dan membuat sketsa TKP. Bukti inilah nanti kemudian dibawa ke laboratorium kriminal untuk diproses oleh teknisi laboratorium forensik.
#Ilmuwan forensik bekerja di laboratorium untuk memeriksa segala barang bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Ilmuwan forensik CSI.
Ilmuwan laboratorium forensik menggunakan berbagai bahan kimia dan analisis fisik untuk mengidentifikasi bukti dan membangun hubungan antara tersangka dan tindak pidana. Mereka mengevaluasi DNA, sidik jari dan cipratan darah, selain melakukan tes balistik.
Sementara investigasi TKP adalah cabang terbatas ilmu forensik, ilmuwan laboratorium forensik memiliki berbagai spesialisasi untuk dipilih. Sebagai contoh, beberapa spesialis ilmuwan forensik dalam ilmu digital dan multimedia. Masing Individu-individu mengembangkan hasil rekaman video untuk mengidentifikasi tersangka dan korban, memeriksa komputer untuk menentukan apakah file telah dihapus atau dimodifikasi dan penetapan waktu penggunaan komputer.
Ilmuwan forensik lain mungkin mengkhususkan diri dalam ilmu teknik dan mampu menjawab segala pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa kendaraan terguling, sebuah pesawat jatuh atau bangunan runtuh. Ahli toksikologi forensik menentukan apakah alkohol atau obat-obatan terlarang menyebabkan kematian seseorang.

Bapak Ilmu Dunia Forensik Modern

dr-edmond-locard

Bahkan sosok Sir Arthur Conan Doyle sebagai pencipta sosok Sherlock pun mengagumi Edmond Locard
The Godfather Of CSI siapa lagi kalau bukan Edmond Locard pendiri ilmu forensik modern, Sosok Edmond Locard selalu memberi inspirasi dalam dunia forensik kriminal. sampai saat ini ilmu atau teorinya masih berlaku dan digunakan dalam metode pengungkapan kasus-kasus kejahatan. Dia mengajak kota Lyons di Perancis selatan untuk membangun dunia laboratorium CSI pertama yang akan mengubah wajah dunia dan memerangi kejahatan untuk selama-lamanya.
Seperti Sherlock Holmes, detektif fiksi yang terinspirasi dengan kehadirannya, dia adalah seorang jenius.Sir Arthur Conan Doyle, yang telah menciptakan Holmes pada tahun 1886, merupakan salah satu pengagum Locard yang mengikuti dan untuk melihat laboratorium forensik dalam operasi.
lab Locard dibuka pada tahun 1910 dan di sana ia mulai untuk merumuskan teori pusat forensik yang mendukung ribuan investigasi pembunuhan yang diluncurkan setiap tahunnya, dari Baltimore ke Cape Town.Teorinya yang paling dikenal yaitu menetapkan bahwa “setiap kontak meninggalkan jejak.” Dia menunjuk sidik jari, rambut, darah dan cairan tubuh.dr-edmond-locard

Memburu Jejak TKP Lewat Media Belajar Bersama Dokter Forensic

pembusukan

Bekerja bersama dokter forensic dalam mengungkap suatu kasus adalah pengalaman paling berharga dalam hidup saya berkenaan dengan mayat apalagi pada saat dilakukan autopsi mayat.Sangat-sangat tidak terbayang dalam pikiran saya bisa satu panggung bersama dokter jika tidak bertugas dibagian INAFIS.Untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman forensic butuh sekolah atau pendidikan khusus forensic.Namun dengan tugas dibagian INAFIS banyak ilmu yang saya peroleh mulai dari mengenal bentuk organ tubuh manusia baik dalam maupun luar,penyebab kematian korban sampai pada istilah-istilah kedokteran.

Bukan hanya teori dokter forensic saja yang saya dapatkan, tapi pejelasan uji coba penyebab kematian juga saya dapatkan seperti kasus pembunuhan yang diakibatkan oleh bekapan yang erat hubungannya dengan organ dalam paru-paru,bekas pukulan benda tumpul walaupun korban sudah lama meninggal namun tulang bagian organ dalam tetap akan meninggalkan bekas, kemudian tusukan juga dan masih banyak lagi ilmu yang saya peroleh.

Didalam tkp ada begitu banyak barang bukti yang bisa dijadikan analisa/dikembangkan untuk proses pembuktian mulai dari barang milik korban seperti perhiasan atau identitas korban, serta bagian tubuh korban atau bahkan milik pelaku dan lain sebagainya.Kesemua barang bukti yang ada pada tkp tersebut dapat dijadikan bukti setelah dilakukan penyisihan oleh INAFIS mana yang masuk dan ada kaitannya dengan kasus yang terjadi.

Prinsip yang kami pegang “Tidak ada tkp yang tidak meninggalkan jejak,sepintar,serapih apapun tkp tetap akan meninggalkan jejak”. Prinsip inilah yang kita junjung dan kita laksanakan guna mengembangkan kasus tersebut sesuai “teori segitiga”. Pembuktian segitiga adalah hubungan timbal balik antara pelaku,barang bukti dan saksi korban atau adanya persesuaian yang saling berhubungan.

Berdasarkan penjelasan diatas, panduan tersebut bisa diambil atau dijadikan pegangan oleh penyidik yang bertugas dibagian olah tempat kejadian perkara dalam hal ini INAFIS untuk memperkirakan berapa lama korban meninggal ketika mendatangai dan melihat kondisi korban di TKP.Hasil pengamatan tersebut bisa dihubungkan dan di compare pada saat olah tkp dimana barang bukti yang ditemukan dan kondisi posisi korban pertama kali dilihat dengan menggunakan ukuran/meteran.Begitu pentingnya posisi asli tkp sehingga tidak diperbolehkan untuk bergeser sebelum dilakukan olah tempat kejadian perkara oleh INAFIS.

Memburu Jejak TKP

Kisah “MEBURU JEJAK TKP”
Dibuku kedua ini penulis mengajak dan berbagi pengalaman dalam bidang olah tempat kejadian perkara khususnya kasus pembunuhan atau penemuan mayat. Mengungkap kasus demi kasus dengan menggunakan metode Scientific Crime Investigation ( SCI ) bahkan dengan segala petunjuk atau barang bukti yang mungkin buat sebagian orang tidak berguna dalam proses pengungkapan,seperti kisah detective Sherlock yang terkenal dengan “deduksinya”.Kisah pengungkapan kasus pembunuhan ini tak jarang membuat haru petugas ketika berhadapan/melihat korban pembunuhan, namun sebagai petugas Kepolisian harus bersikap profesional dan bisa menempatkan diri.Kejelian dan sensitifitas terhadap TKP wajib dimiliki setiap petugas bagaimana melihat situasi TKP apakah benar-benar terjadi ataukah sebuah rekayasa. 
Pengungkapan kasus ini hampir tak jauh beda seperti kisah-kisah fiksi polisi detective, dimana korban yang ditemukan ditempat-tempat tertutup dan bahkan minim saksi apalagi barang bukti tapi niat baik selalu diridhoi ALLAH SWT. Ada prinsip dalam menuntut ilmu yang penulis pegang sampai sekarang “Jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihatlah apa yang akan disampaikannya”karena pengalaman adalah guru yang paling penting dalam menambah pengetahuan.Umur dan pendidikan bukanlah jaminan untuk seseorang dianggap hebat atau mahir tapi pengalaman yang secara terus meneruslah guru yang paling bagus.
Didalam buku ini penulis membahas bagaimana pengalaman menjadi anggota INAFIS dan berhadapan dengan mayat busuk,berulat dan bahkan harus kekamar jenazah sendirian hanya untuk mengambil sidik jari korban dan memeriksa tanda-tanda kematian korban. Memperkenalkan sebagian alat-alat yang digunakan Polisi CSI, metode-metode dalam pencarian barang bukti serta pengertian barang bukti menurut parah ahli serta banyak lagi.
Melalui buku ini saya ingin masyarakat lebih memahami tugas kami sebagai team olah tkp yang selalu siap kapanpun dibutuhkan sebagai garda terdepan dalam proses penyelidikan dan penyidikan dalam mengungkap suatu peristiwa pidana,sehingga antara masyarakat dan polisi dapat menjadi mitra dalam memerangi kejahatan.Kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari masyarakat sebagai pemberi informasi.Sekecil apapun informasi yang kami dapat dari masyarakat sangat penting dalam pengungkapan kejahatan.
Dengan buku ini juga penulis berharap, masyarakat akan menjadi paham bagaimana pentingnya sebuah keaslian TKP dalam peristiwa pidana.TKP adalah gudangnya barang bukti disana banyak informasi penting mulai dari pelaku,saksi sampai pada barang bukti yang kesemuanya masuk dalam teori “segitiga pembuktian”.
Nantikan Kisahnya dibuku kedua ” Memburu jejak TKP” sebagai bentuk dedikasi penulis selama bergelut di bidang TKP

Kerangka Wanita Diperkebunan Sawit

wp-1491579464128.png

Terlihat tulang kerangka diantara semak rerumputan. Dugaan sementara kerangka yang kita temukan berjenis kelamin perempuan dengan diperkuat adanya barang bukti yang ditemukan di lokasi TKP dan lokasi TKP cukup luas karena berada di lahan perkebunan, tentu metode yang kita gunakan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara ketika mencari petunjuk atau barang bukti berbeda, ketika berada didalam rumah.

Metode yang kami pakai untuk lokasi yang cukup luas ini menggunakan metode spiral untuk mencari barang bukti yang lain, setelah melakukan penyisiran serta olah TKP. Dilokasi TKP kita temukan jasad wanita dalam keadaan tidak utuh dan sudah menjadi tengkorak, tangan dan perutnya sudah tidak utuh lagi seperti dimakan binatang buas dalam keadaan mengenaskan.
Di lokasi TKP, ditemukan barang bukti seperti pisau, sendal, jilbab dan bahkan pakaian korban yang menguatkan dugaan bahwa mayat tersebut berjenis kelamin perempuan. Mayat atau tulang belulang tersebut selanjutnya dibawa kerumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter forensic.

Untuk mengetahui identitas korban yang ketika ditemukan sudah menjadi tulang belulang, bahkan beberapa bagian anggota tubuhnya ada yang hilang sangatlah sulit dan harus ekstra hati-hati. Sejauh ini belum ada laporan warga yang hilang anggota keluarga.
Sebab pasti kematian sulit untuk dapat ditentukan karena sudah terjadi proses pembusukan lanjut berupa Skeletonisasi ( tulang belulang ), tetapi kekerasan yang terjadi pada tulang tengkorak diatas yaitu berupa resapan darah menunjukkan bahwa telah terjadi suatu kekerasan yang sangat hebat dikepala yang dapat merusak otak sehingga terjadi kematian.
Dalam ilmu forensik umumnya rangka manusia terbagi atas tiga bagian yaitu :
a. Rangka kepala
1) Rangka kepala dikenal dengan nama tengkorak.
2) Rangka tulang kepala berbentuk bulat, disusun oleh tulang-tulang yang berbentuk pipih.
3) Tulang-tulang bersatu membentuk sendi tetapi tidak dapat digerakkan.
b. Rangka badan
Rangka badan disusun oleh berbagi masam tulang, diantranya :
1) Ruas tulang belakang, sambungan antar tulang dapat digerakkan kedepan atau membungkuk ke depan, ke samping, sehingga tubuh dapat dibungkukkan.
2) Tulang dada tidak dapat digerakkan
3) Tulang-tulang rusuk, sambungan tulang-tulang rusuk dapat digerakkan.
4) Tulang rangka badan ada yang berbentuk pipih, misalnya pada tulang rusuk dan belikat.
5) Rangka badan membentuk rongga dada yang berfungsi untuk melindungi paru-paru, jantung, hati, dan lambung.
c. Rangka anggota gerak
1) Rangka anggota gerak terdiri atas rangka tangan dan rangka kaki.
2) Rangka tangan dan rangka kaki disusun oleh tulang-tulang yang berbentuk pipa dan keras.
3) Setiap tulang dihubungkan dengan sendi sehingga dapatbergerak.

Bagaimana kisah proses pencarian dan pengungkapannya silahkan ikuti dalam Memburu Jejak TKP

WordPress.com.

Up ↑